Tingkatkan kredit ke UKM dan inovasi teknologi adalah strategi yang harus dilakukan untuk menguatkan UKM dalam menghadapi krisis keuangan global.
“Sri Sultan sendiri yang meminta didata 18.000 UKM yang terancam macet kreditnya di DIY”, kata Prof. Dr. Mudrajat Kuncoro, pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjadi pembicara di seminar “UKM Menghadapi Krisis Global” dalam Rakornas UKM Kadin, Jakarta 21 Oktober 2008. Staf Ahli Kadin Indonesia ini mengisahkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono prihatin dengan kondisi UKM di sekitaran DIY. Dengan adanya 18.000 UKM yang terancam macet kreditnya, berarti potensi kerugian mencapaian Rp 300-an Miliar.
Hasil pengamatan pakar ekonomi ini memang memperlihatkan gejala deindustrialisasi di speutaran DIY dan Jawa Tengah. Mundrajat menunjukkan dalam presentsinya, misalnya usaha mikro yang sebelum krisis dikelola oleh 3-4 orang, kini tinggal 1-2 orang. Pun dengan UKM yang tadinya bisa mencapai 7-10 orang kini tinggal 5 orang. “Industri melakukan efisiensi yang berarti penekanan biaya produksi yang naik tapi pasar ekspor berkurang. Deindustrialisasi benar terjadi di sana”, terang Mudrajat.
Oleh karena itu adalah tepat jika krisis ini, menurut Mudrajat menjadi pemerintah meninjau ulang kebiajakan-kebijakannya berkaitan dengan UKM. “Intinya pemerintah harus berpihak kepada UKM”, tegas Mudrajat. Kerjsama dengan organisasi usaha diperlukan seperti dengan Kadin. Kebetulan Kadin memiliki bidang yang mengurusi UKM dan dipimpin oleh satu ketua.
Kembangkan Kredit Investasi
Di mata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Erwin Aksa, UKM sebenarnya memiliki potensi yang bagus di masa depan. Dari data per 2007, ia menunjukkan porsi ekspor UKM sebesar 20,02% dari total ekspor non-migas Indonesia, sedangkan ekspor Usaha Besar (UB) masih menjadi dominasi utama bagi ekspor non-migas Indonesia sebesar 79,98%. Meskipun, “Masih lebih kecil dari nilai ekspor usaha besar, kisaran 20% porsi UKM adalah signifikan dan lagi tenaga kerja yang diserapnya atau multiplier effectnya”, kata Erwin Aksa dalam kesempatan yang sama.
Data yang dimilikinya menunjukkan, ekspor Non-migas bagi UKM masih didominasi oleh sektor industri 89%, sedangkan sektor pertanian sekitar 9,8%. Dan, baik sektor UKM maupun Usaha Besar (UB), sektor industri masih menyumbang terbesar dalam ekspor non-migas Indonesia.
Krisis juga berimbas terhadap UKM. Erwin melihat beberapa indikasinya. Misalnya,. Jatuhnya harga CPO per Agustus lalu ke rata-rata USD 884/ton sementara sebelumnya di Juli 2008 sebesar USD1.213/ton.
Tidak hanya di sektor perkebunan, “Ekspor produk kayu olahan dan furnitur mengalami penurunan diakibatkan oleh menurunnya pembangunan perumahan di AS”, jelas Erwin. Oleh karenanya, Erwin mengusulkan sepuluh point cara alternatif bagi UKM dalam menghadapi krisis global (lihat box: “Strategi Alternatif Bagi UKM dalam Menghadapi Krisis Global”). Salah satunya adalah peningkatan kredit produktif ketimbang konsumtif ke sektor usaha, terutama UKM.
“Walaupun struktur kredit perbankan sudah hampir menunjukan keseimbangan antara Kredit Investasi (KI), Kredit Konsumsi dan Kredit Modal Kerja (KMK), namun masih terlihat proporsi Kredit Konsumsi dari bulan ke bulan masih lebih besar dari kredit investasi”, kata Erwin. Dari data yang dipaparkannya, per Mei 2008, kontribusi kredit konsumsi 29% sementara kredit investasi 19% dari total kredit.
“Pada Mei 2008, porsi kredit UKM untuk Konsumsi mencapai 52%, sedangkan untuk KMK dan KI masing-masing sebesar 39% dan Investasi 9%”, terang Erwin. Maka dari itu, ke depan, pemerintah diharapkan lebih mendorong penyerapan kredit investasi bagi perkembangan usaha UKM di Indonesia. Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah dijalankan oleh pemerintah diharapkan dapat mendorong tumbuhnya UKM-UKM baru sebagai pondasi ekonomi yang kuat.
Technology Push the Industry
Salah satu topik dalam Rakornas UKM Kadin kemarin adalah soal peran inovasi teknologi dalam mendorong kemajuan UKM di Indonesia. Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman bicara dalam salah satu sesi Rakornas tersebut. Kusmayanto menilai teknologi bisa berperan signifikan untuk membuat UKM Indonesia memiliki daya saing, “Technology push the industry”, tegas Kusmayanto. Agar inovasi teknologi bisa diterapkan di UKM, perlu sinergi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah.
“Perlunya intermediator-intermediator untuk membangun sinergi tersebut”, kata Kusmayanto. Lembaga intermediator tersebut, menurut Kusmayanto telah dibentuk oleh Kemenristek, antara lain Business Innovation Center (BIC), Business Technology Center (BTC), Pusat Inovasi/Kemitraan (di berbagai lembaga litbang, perguruan tinggi), Inkubator (di berbagai lembaga litbang dan perguruan tinggi), dan Sentra HKI (di perguruan tinggi).
Untuk mendukung lembaga intermediato, Kemenristek juga melakukan beberapa hal seperti menerbitkan buku 100 Inovasi Indonesia: Berisi Informasi 100 Inovasi yang Prospektif, membangun Warintek yang memuat 600 teknologi tepat guna (TTG di bidang pangan, kesehatan, dan obat-obatan), membangun sentra HKI di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2007, menerbitkan Direktori Teknologi BPPT pada 2007, dan tengah menyusun panduan 16.000 TTG.
Salah satu dukungan Kemenristek kepada dunia usaha adalah di industri agar-agar. Sejak 1986, BPPT, lembaga di bawah Kemenristek bekerjasama dengan PT Agarindo Bogatama mengembangkan agar-agar hingga kini perusahaan tersebut menjadi penghasil agar-agar terbesar di dunia dengan kpasitas produksi 5-6 ton per hari. IA
Strategi Alternatif Bagi UKM dalam Menghadapi Krisis Global (Ketua HIPMI, Erwin Aksa)
* Upaya peningkatan diversifikasi poduk dan pasar tujuan ekspor
* Meningkatkan insentif fiskal maupun non fiskal bagi pelaku usaha khususnya sektor UKM
* Meminimalisasi biaya-biaya yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, baik terkait dengan proses birokrasi maupun kondisi-kondisi yang menciptakan ekonomi rente
* Mengamankan serta memperkuat pasar dalam negeri
* Peningkatan efisiensi dan produktivitas serta mempercepat restrukturisasi usaha
* Perbaikan iklim investasi dengan kebijakan yang konsisten
* Menjaga keberlangsungan UKM dengan KUR serta program fasilitasi UKM lainnya
Potret UMKM di Indonesia Menurut Kemenkop UKM (2007)
Unit Usaha: 48,9 juta
Kontribusi bagi PDB: Rp. 1.778 Triliun (53,3%)
Penyerapan Tenaga Kerja: 96%
Kontribusi bagi Ekspor non Migas: 20%
Beberapa Inovasi Teknologi yang Sudah Diterapkan UKM di Indonesia (Kemenristek)
Inovasi Keunggulan/ Manfaat
Produksi Ikan Nila GESIT Melalui Pengembangan “YY” MaleTechnology Mampu beradaptasi dengan kondisi perairan bersalinitas tinggi; memiliki tingkat pertumbuhan super.
Teknologi Apartemen Udang Galah Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Pemanfaatan air kolam lebih optimal sehingga ruang pemeliharaan bibit udang lebih luas.
Bio-proses Produksi Minyak Kelapa Menggunakan Ragi Tempe Dapat dilakukan tanpa harus melalui pre kultur (starter), memudahkan aplikasi di wilayah pedesaan.
Teknologi Peningkatan Mutu Kakao Non Fermentasi Melalui Reaktifasi Enzim-Enzim Kunci dan Aplikasi Bakter Asam Laktat Biji kakao yang dihasilkan terlindung dari kontaminasi mikotoksin selama penyimpanan dan pengapalan; prosesnya cukup praktis, murah dan cepat.
Proses Membuat Motif Batik Fraktal Dapat menciptakan motif-motif baru secara cepat dengan beragam pilihan; kesesuaian dengan standar batik tradisional tetap terjaga; dapat disinkronkan dengan mesin produksi tekstil; dapat membuat produk lain bertema batik dalam bentuk 3 dimensi.
Next Generation Network SoftswitchBerbasis Personal Computer (PS), sehingga biaya menjadi sangat murah; menjadi basis teknologi telekomunikasi NGN dan 4G di masa datang.
KWH Meter Digital 1 Phase Penghitungan dan pencatatan data pengguna listrik dilakukan secara digital sehingga lebih akurat; pengambilan data Energi; pemutusan dan penyambung dapat dilakukan dari jarak jauh mencegah pencurian listrik.
Pengembangan Pembakar Siklon Dengan Batubara Halus Untuk Substitusi Pembakar BBM Di Industri Fleksibel dan dapat mengimbangi kapasitas pembakar BBM diberbagai fasilitas industri; harga bahan bakar lebih ekonomis dari minyak.
Sumber : ajisaka
“Sri Sultan sendiri yang meminta didata 18.000 UKM yang terancam macet kreditnya di DIY”, kata Prof. Dr. Mudrajat Kuncoro, pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) saat menjadi pembicara di seminar “UKM Menghadapi Krisis Global” dalam Rakornas UKM Kadin, Jakarta 21 Oktober 2008. Staf Ahli Kadin Indonesia ini mengisahkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono prihatin dengan kondisi UKM di sekitaran DIY. Dengan adanya 18.000 UKM yang terancam macet kreditnya, berarti potensi kerugian mencapaian Rp 300-an Miliar.
Hasil pengamatan pakar ekonomi ini memang memperlihatkan gejala deindustrialisasi di speutaran DIY dan Jawa Tengah. Mundrajat menunjukkan dalam presentsinya, misalnya usaha mikro yang sebelum krisis dikelola oleh 3-4 orang, kini tinggal 1-2 orang. Pun dengan UKM yang tadinya bisa mencapai 7-10 orang kini tinggal 5 orang. “Industri melakukan efisiensi yang berarti penekanan biaya produksi yang naik tapi pasar ekspor berkurang. Deindustrialisasi benar terjadi di sana”, terang Mudrajat.
Oleh karena itu adalah tepat jika krisis ini, menurut Mudrajat menjadi pemerintah meninjau ulang kebiajakan-kebijakannya berkaitan dengan UKM. “Intinya pemerintah harus berpihak kepada UKM”, tegas Mudrajat. Kerjsama dengan organisasi usaha diperlukan seperti dengan Kadin. Kebetulan Kadin memiliki bidang yang mengurusi UKM dan dipimpin oleh satu ketua.
Kembangkan Kredit Investasi
Di mata Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Erwin Aksa, UKM sebenarnya memiliki potensi yang bagus di masa depan. Dari data per 2007, ia menunjukkan porsi ekspor UKM sebesar 20,02% dari total ekspor non-migas Indonesia, sedangkan ekspor Usaha Besar (UB) masih menjadi dominasi utama bagi ekspor non-migas Indonesia sebesar 79,98%. Meskipun, “Masih lebih kecil dari nilai ekspor usaha besar, kisaran 20% porsi UKM adalah signifikan dan lagi tenaga kerja yang diserapnya atau multiplier effectnya”, kata Erwin Aksa dalam kesempatan yang sama.
Data yang dimilikinya menunjukkan, ekspor Non-migas bagi UKM masih didominasi oleh sektor industri 89%, sedangkan sektor pertanian sekitar 9,8%. Dan, baik sektor UKM maupun Usaha Besar (UB), sektor industri masih menyumbang terbesar dalam ekspor non-migas Indonesia.
Krisis juga berimbas terhadap UKM. Erwin melihat beberapa indikasinya. Misalnya,. Jatuhnya harga CPO per Agustus lalu ke rata-rata USD 884/ton sementara sebelumnya di Juli 2008 sebesar USD1.213/ton.
Tidak hanya di sektor perkebunan, “Ekspor produk kayu olahan dan furnitur mengalami penurunan diakibatkan oleh menurunnya pembangunan perumahan di AS”, jelas Erwin. Oleh karenanya, Erwin mengusulkan sepuluh point cara alternatif bagi UKM dalam menghadapi krisis global (lihat box: “Strategi Alternatif Bagi UKM dalam Menghadapi Krisis Global”). Salah satunya adalah peningkatan kredit produktif ketimbang konsumtif ke sektor usaha, terutama UKM.
“Walaupun struktur kredit perbankan sudah hampir menunjukan keseimbangan antara Kredit Investasi (KI), Kredit Konsumsi dan Kredit Modal Kerja (KMK), namun masih terlihat proporsi Kredit Konsumsi dari bulan ke bulan masih lebih besar dari kredit investasi”, kata Erwin. Dari data yang dipaparkannya, per Mei 2008, kontribusi kredit konsumsi 29% sementara kredit investasi 19% dari total kredit.
“Pada Mei 2008, porsi kredit UKM untuk Konsumsi mencapai 52%, sedangkan untuk KMK dan KI masing-masing sebesar 39% dan Investasi 9%”, terang Erwin. Maka dari itu, ke depan, pemerintah diharapkan lebih mendorong penyerapan kredit investasi bagi perkembangan usaha UKM di Indonesia. Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah dijalankan oleh pemerintah diharapkan dapat mendorong tumbuhnya UKM-UKM baru sebagai pondasi ekonomi yang kuat.
Technology Push the Industry
Salah satu topik dalam Rakornas UKM Kadin kemarin adalah soal peran inovasi teknologi dalam mendorong kemajuan UKM di Indonesia. Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman bicara dalam salah satu sesi Rakornas tersebut. Kusmayanto menilai teknologi bisa berperan signifikan untuk membuat UKM Indonesia memiliki daya saing, “Technology push the industry”, tegas Kusmayanto. Agar inovasi teknologi bisa diterapkan di UKM, perlu sinergi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah.
“Perlunya intermediator-intermediator untuk membangun sinergi tersebut”, kata Kusmayanto. Lembaga intermediator tersebut, menurut Kusmayanto telah dibentuk oleh Kemenristek, antara lain Business Innovation Center (BIC), Business Technology Center (BTC), Pusat Inovasi/Kemitraan (di berbagai lembaga litbang, perguruan tinggi), Inkubator (di berbagai lembaga litbang dan perguruan tinggi), dan Sentra HKI (di perguruan tinggi).
Untuk mendukung lembaga intermediato, Kemenristek juga melakukan beberapa hal seperti menerbitkan buku 100 Inovasi Indonesia: Berisi Informasi 100 Inovasi yang Prospektif, membangun Warintek yang memuat 600 teknologi tepat guna (TTG di bidang pangan, kesehatan, dan obat-obatan), membangun sentra HKI di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2007, menerbitkan Direktori Teknologi BPPT pada 2007, dan tengah menyusun panduan 16.000 TTG.
Salah satu dukungan Kemenristek kepada dunia usaha adalah di industri agar-agar. Sejak 1986, BPPT, lembaga di bawah Kemenristek bekerjasama dengan PT Agarindo Bogatama mengembangkan agar-agar hingga kini perusahaan tersebut menjadi penghasil agar-agar terbesar di dunia dengan kpasitas produksi 5-6 ton per hari. IA
Strategi Alternatif Bagi UKM dalam Menghadapi Krisis Global (Ketua HIPMI, Erwin Aksa)
* Upaya peningkatan diversifikasi poduk dan pasar tujuan ekspor
* Meningkatkan insentif fiskal maupun non fiskal bagi pelaku usaha khususnya sektor UKM
* Meminimalisasi biaya-biaya yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, baik terkait dengan proses birokrasi maupun kondisi-kondisi yang menciptakan ekonomi rente
* Mengamankan serta memperkuat pasar dalam negeri
* Peningkatan efisiensi dan produktivitas serta mempercepat restrukturisasi usaha
* Perbaikan iklim investasi dengan kebijakan yang konsisten
* Menjaga keberlangsungan UKM dengan KUR serta program fasilitasi UKM lainnya
Potret UMKM di Indonesia Menurut Kemenkop UKM (2007)
Unit Usaha: 48,9 juta
Kontribusi bagi PDB: Rp. 1.778 Triliun (53,3%)
Penyerapan Tenaga Kerja: 96%
Kontribusi bagi Ekspor non Migas: 20%
Beberapa Inovasi Teknologi yang Sudah Diterapkan UKM di Indonesia (Kemenristek)
Inovasi Keunggulan/ Manfaat
Produksi Ikan Nila GESIT Melalui Pengembangan “YY” MaleTechnology Mampu beradaptasi dengan kondisi perairan bersalinitas tinggi; memiliki tingkat pertumbuhan super.
Teknologi Apartemen Udang Galah Untuk Meningkatkan Produksi Budidaya Pemanfaatan air kolam lebih optimal sehingga ruang pemeliharaan bibit udang lebih luas.
Bio-proses Produksi Minyak Kelapa Menggunakan Ragi Tempe Dapat dilakukan tanpa harus melalui pre kultur (starter), memudahkan aplikasi di wilayah pedesaan.
Teknologi Peningkatan Mutu Kakao Non Fermentasi Melalui Reaktifasi Enzim-Enzim Kunci dan Aplikasi Bakter Asam Laktat Biji kakao yang dihasilkan terlindung dari kontaminasi mikotoksin selama penyimpanan dan pengapalan; prosesnya cukup praktis, murah dan cepat.
Proses Membuat Motif Batik Fraktal Dapat menciptakan motif-motif baru secara cepat dengan beragam pilihan; kesesuaian dengan standar batik tradisional tetap terjaga; dapat disinkronkan dengan mesin produksi tekstil; dapat membuat produk lain bertema batik dalam bentuk 3 dimensi.
Next Generation Network SoftswitchBerbasis Personal Computer (PS), sehingga biaya menjadi sangat murah; menjadi basis teknologi telekomunikasi NGN dan 4G di masa datang.
KWH Meter Digital 1 Phase Penghitungan dan pencatatan data pengguna listrik dilakukan secara digital sehingga lebih akurat; pengambilan data Energi; pemutusan dan penyambung dapat dilakukan dari jarak jauh mencegah pencurian listrik.
Pengembangan Pembakar Siklon Dengan Batubara Halus Untuk Substitusi Pembakar BBM Di Industri Fleksibel dan dapat mengimbangi kapasitas pembakar BBM diberbagai fasilitas industri; harga bahan bakar lebih ekonomis dari minyak.
Sumber : ajisaka






Tidak ada komentar:
Posting Komentar