Oleh: Shoda Intishori al-IslamiyDia adalah perempuan berusia enam puluhan dengan penampilan yang sangat sederhana. Kulitnya legam karena lebih dari separuh usianya dia habiskan bekerja di sawah, di tengah terik tanpa keluh sempat terbetik. Lewat tangan dan jemarinya tiap bulir padi bisa sampai ke perut kita dan manusia lainnya di bumi Indonesia...
Saya mengenalnya sebagai Bude Saryo. Kini dia tidak lagi bekerja di sawah. Dia berjualan jamu keliling. Pukul sembilan pagi dia mulai beroperasi. Tiap pintu dan pagar rumah dihampirinya, tentunya dengan sebuah harapan besar, sang pemilik rumah akan mengatakan iya untuk tawaran yang diberikan. Uang dua ribu untuk tiap gelas jamu yang berhasil dia jual berarti lanjutan detak bagi nafasnya, bagi hidupnya.
Pagi usai, siang datang dan waktunya bagi Bude Saryo untuk pulang. Bukan untuk menikmati kasur yang tidak empuk, tapi dia kembali untuk segera bersibuk. Selesai sholat Zuhur, dia membuat kripik singkong untuk besok pagi dia bisa antarkan ke pemesan.
Kala malam tiba, Bude Saryo kadang tidak bisa melenakan tubuhnya. Dia masih harus memenuhi permintaan urut dari para tetangga atau pelanggan jamu kelilingnya.
Dia sempat berbagi kisahnya dengan saya. Dia bilang ikhlas menjalani semuanya, walau kadang rasa sangat lelah tidak urung dia rasakan. Wajar, mengingat usianya yang sudah kepala enam.
Itulah sepenggal kisah milik Bude Saryo, milik seorang anak manusia yang mencoba bertahan hidup dalam segala keterbatasan. Usia yang sudah menginjak kepala enam tidak menjadi rintangan baginya untuk menuai rejeki halal.
Sepenggal kisah seperti itu besar kemungkinan bukan hanya saya yang mengindera. Puluhan cerita bahkan ribuan cerita serupa bertebaran di negeri ini. Kisah perjuangan melanjutkan hidup. Kisah tentang pertarungan dengan mempertaruhkan keringat, doa, dan airmata.
Mereka bukanlah orang-orang malas yang hanya mau mengais rejeki dengan menadahkan tangan dan menanti belas kasihan. Mereka bekerja sekuat tenaga yang mereka punya, sebanyak peluh yang mereka bisa curahkan. Namun, kemiskinan dan peminggiran tetap mendera. Itu sudah nasib? Nasib malang, nasib buruk, memang bukan area manusia untuk mengutak-atik. Tapi, benarkah kemiskinan dan fenomena orang-orang yang terpinggirkan di negeri ini semata nasib malang mereka? Ataukah sebuah kedzoliman raksasa yang memaksa kemiskinan itu ada?
Si Miskin Makin Miskin, Si Kaya Bertambah Kaya
Tahukah kita bahwa tahun 1999 saja 1/5 orang terkaya di dunia mengkonsumsi 86% semua barang dan jasa, sementara 1/5 orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi kurang dari 1% saja. (The United Nations Human Development Report, 1999)?
Tahukah kita bahwa di tahun 2006 kelompok penduduk berpendapatan terendah (miskin) hanya menikmati porsi pertumbuhan ekonomi 19,2 persen dari 20,92 persen di tahun 2000, dan sebaliknya, 20 persen kelompok penduduk terkaya makin menikmati pertumbuhan ekonomi dari 42,19 persen menjadi 45,72 persen?
Bukankah itu sebuah kesenjangan yang nyata? Mengapa kesenjangan itu semakin lebar dan dalam? Mengapa orang kaya semakin leluasa menambah kekayaannya? Bukankah orang miskin juga manusia yang berhak mendapatkan kehidupan yang layak?
Pernahkah kita membaca data orang terkaya negeri ini? Majalah Forbes tahun 2007 menyebutkan 10 besar dalam daftar orang kaya dan nilai kekayaannya sebagai berikut:
1. Aburizal Bakrie dan keluarga : 5,4 miliar dolar AS
2. Sukanto Tanoto (perusahaan April dan Asian Agri): 4,7 miliar AS
3. R. Budi Hartono: 3,14 miliar dolar AS
4. Michael Hartono: 3,08 miliar dolar AS (Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA)
5. Eka Tjipta Widjaja dan keluarga (Sinar Mas Group): 2,8 miliar dolar AS
6. Putera Sampoerna dan keluarga (Sampoerna Strategic): 2,2 miliar dolar AS
7. Martua Sitorus (Wilmar International): 2,1 miliar dolar AS
8. Rachman Halim dan keluarga (Gudang Garam): 1,6 miliar dolar AS
9. Peter Sondakh (Rajawali Group): 1,45 miliar dolar AS
10.Eddy William Katuari dan keluarga (Wings Group): 1,39 miliar dolar AS
Wou! Jumlah kekayaan yang begitu fantastis yang hanya dimiliki oleh 10 orang! Sepuluh orang Indonesia bisa menguasai 27,86 milyar dolar AS! Sementara jumlah penduduk per Maret 2007 yang berada di bawah garis kemiskinan ada 37,17 juta penduduk!
Bagaimana bisa sepuluh orang menguasai begitu banyak kekayaan, sedangkan 37,17 juta orang (tahun 2007) berada dalam kemiskinan? Kita pasti berkata itu tidak adil. Lalu, mengapa ketidakadilan terus berlangsung?
Menurut Prof. Dr. Umar Chapra, alumni Minnesota University, Amerika Serikat yang juga penasehat ekonomi pada Lembaga Moneter Arab Saudi, dalam buku Islam and Economic Challenge, kapitalisme memandang orang miskin dan pengangguran adalah pemalas, enggan bekerja, boros dan tidak giat berusaha. Orang miskin harus dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebab, kemiskinan itu disebabkan ulahnya sendiri, bukan ulah kapitalisme atau struktur ekonomi yang zalim.
Saya mengenalnya sebagai Bude Saryo. Kini dia tidak lagi bekerja di sawah. Dia berjualan jamu keliling. Pukul sembilan pagi dia mulai beroperasi. Tiap pintu dan pagar rumah dihampirinya, tentunya dengan sebuah harapan besar, sang pemilik rumah akan mengatakan iya untuk tawaran yang diberikan. Uang dua ribu untuk tiap gelas jamu yang berhasil dia jual berarti lanjutan detak bagi nafasnya, bagi hidupnya.
Pagi usai, siang datang dan waktunya bagi Bude Saryo untuk pulang. Bukan untuk menikmati kasur yang tidak empuk, tapi dia kembali untuk segera bersibuk. Selesai sholat Zuhur, dia membuat kripik singkong untuk besok pagi dia bisa antarkan ke pemesan.
Kala malam tiba, Bude Saryo kadang tidak bisa melenakan tubuhnya. Dia masih harus memenuhi permintaan urut dari para tetangga atau pelanggan jamu kelilingnya.
Dia sempat berbagi kisahnya dengan saya. Dia bilang ikhlas menjalani semuanya, walau kadang rasa sangat lelah tidak urung dia rasakan. Wajar, mengingat usianya yang sudah kepala enam.
Itulah sepenggal kisah milik Bude Saryo, milik seorang anak manusia yang mencoba bertahan hidup dalam segala keterbatasan. Usia yang sudah menginjak kepala enam tidak menjadi rintangan baginya untuk menuai rejeki halal.
Sepenggal kisah seperti itu besar kemungkinan bukan hanya saya yang mengindera. Puluhan cerita bahkan ribuan cerita serupa bertebaran di negeri ini. Kisah perjuangan melanjutkan hidup. Kisah tentang pertarungan dengan mempertaruhkan keringat, doa, dan airmata.
Mereka bukanlah orang-orang malas yang hanya mau mengais rejeki dengan menadahkan tangan dan menanti belas kasihan. Mereka bekerja sekuat tenaga yang mereka punya, sebanyak peluh yang mereka bisa curahkan. Namun, kemiskinan dan peminggiran tetap mendera. Itu sudah nasib? Nasib malang, nasib buruk, memang bukan area manusia untuk mengutak-atik. Tapi, benarkah kemiskinan dan fenomena orang-orang yang terpinggirkan di negeri ini semata nasib malang mereka? Ataukah sebuah kedzoliman raksasa yang memaksa kemiskinan itu ada?
Si Miskin Makin Miskin, Si Kaya Bertambah Kaya
Tahukah kita bahwa tahun 1999 saja 1/5 orang terkaya di dunia mengkonsumsi 86% semua barang dan jasa, sementara 1/5 orang termiskin di dunia hanya mengkonsumsi kurang dari 1% saja. (The United Nations Human Development Report, 1999)?
Tahukah kita bahwa di tahun 2006 kelompok penduduk berpendapatan terendah (miskin) hanya menikmati porsi pertumbuhan ekonomi 19,2 persen dari 20,92 persen di tahun 2000, dan sebaliknya, 20 persen kelompok penduduk terkaya makin menikmati pertumbuhan ekonomi dari 42,19 persen menjadi 45,72 persen?
Bukankah itu sebuah kesenjangan yang nyata? Mengapa kesenjangan itu semakin lebar dan dalam? Mengapa orang kaya semakin leluasa menambah kekayaannya? Bukankah orang miskin juga manusia yang berhak mendapatkan kehidupan yang layak?
Pernahkah kita membaca data orang terkaya negeri ini? Majalah Forbes tahun 2007 menyebutkan 10 besar dalam daftar orang kaya dan nilai kekayaannya sebagai berikut:
1. Aburizal Bakrie dan keluarga : 5,4 miliar dolar AS
2. Sukanto Tanoto (perusahaan April dan Asian Agri): 4,7 miliar AS
3. R. Budi Hartono: 3,14 miliar dolar AS
4. Michael Hartono: 3,08 miliar dolar AS (Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA)
5. Eka Tjipta Widjaja dan keluarga (Sinar Mas Group): 2,8 miliar dolar AS
6. Putera Sampoerna dan keluarga (Sampoerna Strategic): 2,2 miliar dolar AS
7. Martua Sitorus (Wilmar International): 2,1 miliar dolar AS
8. Rachman Halim dan keluarga (Gudang Garam): 1,6 miliar dolar AS
9. Peter Sondakh (Rajawali Group): 1,45 miliar dolar AS
10.Eddy William Katuari dan keluarga (Wings Group): 1,39 miliar dolar AS
Wou! Jumlah kekayaan yang begitu fantastis yang hanya dimiliki oleh 10 orang! Sepuluh orang Indonesia bisa menguasai 27,86 milyar dolar AS! Sementara jumlah penduduk per Maret 2007 yang berada di bawah garis kemiskinan ada 37,17 juta penduduk!
Bagaimana bisa sepuluh orang menguasai begitu banyak kekayaan, sedangkan 37,17 juta orang (tahun 2007) berada dalam kemiskinan? Kita pasti berkata itu tidak adil. Lalu, mengapa ketidakadilan terus berlangsung?
Menurut Prof. Dr. Umar Chapra, alumni Minnesota University, Amerika Serikat yang juga penasehat ekonomi pada Lembaga Moneter Arab Saudi, dalam buku Islam and Economic Challenge, kapitalisme memandang orang miskin dan pengangguran adalah pemalas, enggan bekerja, boros dan tidak giat berusaha. Orang miskin harus dibiarkan memenuhi kebutuhannya sendiri. Sebab, kemiskinan itu disebabkan ulahnya sendiri, bukan ulah kapitalisme atau struktur ekonomi yang zalim.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar