
sumber : Republika
Banyak peluang, tapi terbentur kompetensi dan keengganan berkarier dari bawah.
JAKARTA -- Lebih dari 900 ribu atau hampir satu juta sarjana di Indonesia pada tahun ini dilaporkan menganggur. Mereka berasal dari 2.900 perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu.''Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 740 ribu sarjana. Tiap tahun, rata-rata 20 persen lulusan perguruan tinggi kita menjadi pengangguran,'' ungkap Rektor Universitas Katholik Atmajaya (Unika), FG Winarno, dalam pengukuhan guru besar tetap Prof Ir Hadi Sutanto MMAE Phd di Fakultas Teknik Unika, Jakarta, Rabu (17/6).
Tingginya angka pengangguran jebolan perguruan tinggi ini tak lepas dari rendahnya keterampilan di luar kompetensi utama sebagai sarjana. Padahal, untuk menjadi seorang lulusan yang siap kerja, perlu tambahan-tambahan keterampilan di luar bidang akademik. ''Terutama, yang berhubungan dengan entrepreneur,'' jelas Winarno.
Di Indonesia, menurut dia, jumlah entrepreneur sangat minim. Pada 2007, baru tercatat 0,18 persen atau 400 ribu dari jumlah total penduduk Indonesia. Itu berarti masih dibutuhkan sebelas persen atau 1.100 kali lipat (4,4 juta orang) untuk mencapai batas ideal.
Problem kompetensi
Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Fasli Jalal, membenarkan tingginya jumlah sarjana yang menganggur. Ia menyebutkan sekitar 1,1 juta penganggur terdidik pada periode Februari-Agustus 2008. Pada Maret 2009, dilaporkan terjadi penurunan menjadi 961 ribu orang. Dari jumlah itu, 598 ribu merupakan lulusan S-1, sedangkan 362 ribu lulusan program diploma.
Alasan sarjana menganggur, ujar Fasli, antara lain karena kompetensinya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, lulusan yang tidak terserap, memilih untuk tidak bekerja, atau mahasiswa lulusan dari program studi yang sudah jenuh. ''Lulusan dari program studi tersebut sangat banyak, namun kurang dibutuhkan dalam dunia kerja. Ini yang perlu dievaluasi,'' tegasnya.
Demi mengatasi jumlah pengangguran terdidik, pemerintah menyediakan dana Rp 108 miliar untuk membangun kewirausahaan. ''Harus ada pendidikan keterampilan yang diajarkan terus-menerus kepada mahasiswa,'' ujar Fasli. Sementara itu, pengamat pendidikan dari Taman Siswa, Darmaningtyas, memastikan, setiap hari ada saja lowongan kerja dan kebanyakan manajer sumber daya manusia (SDM) perusahaan mengaku kesulitan mendapat tenaga kerja yang diperlukan. Dia juga menyebut contoh masih terbuka lebar kesempatan untuk berkiprah di sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan.
Namun, disesalkannya, sarjana penganggur umumnya tidak mau memulai karier dari bawah, malah cenderung boros dan malas. Di masa kuliah pun lebih suka nongkrong di mall ketimbang perpustakaan sehingga tertanam jiwa hedonis.''Setelah jadi sarjana, mereka maunya bekerja langsung dapat posisi enak, dapat banyak fasilitas, dan gaji besar,'' ujar Darmaningtyas. eye
selengkapnya..
Tingginya angka pengangguran jebolan perguruan tinggi ini tak lepas dari rendahnya keterampilan di luar kompetensi utama sebagai sarjana. Padahal, untuk menjadi seorang lulusan yang siap kerja, perlu tambahan-tambahan keterampilan di luar bidang akademik. ''Terutama, yang berhubungan dengan entrepreneur,'' jelas Winarno.
Di Indonesia, menurut dia, jumlah entrepreneur sangat minim. Pada 2007, baru tercatat 0,18 persen atau 400 ribu dari jumlah total penduduk Indonesia. Itu berarti masih dibutuhkan sebelas persen atau 1.100 kali lipat (4,4 juta orang) untuk mencapai batas ideal.
Problem kompetensi
Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Fasli Jalal, membenarkan tingginya jumlah sarjana yang menganggur. Ia menyebutkan sekitar 1,1 juta penganggur terdidik pada periode Februari-Agustus 2008. Pada Maret 2009, dilaporkan terjadi penurunan menjadi 961 ribu orang. Dari jumlah itu, 598 ribu merupakan lulusan S-1, sedangkan 362 ribu lulusan program diploma.
Alasan sarjana menganggur, ujar Fasli, antara lain karena kompetensinya tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, lulusan yang tidak terserap, memilih untuk tidak bekerja, atau mahasiswa lulusan dari program studi yang sudah jenuh. ''Lulusan dari program studi tersebut sangat banyak, namun kurang dibutuhkan dalam dunia kerja. Ini yang perlu dievaluasi,'' tegasnya.
Demi mengatasi jumlah pengangguran terdidik, pemerintah menyediakan dana Rp 108 miliar untuk membangun kewirausahaan. ''Harus ada pendidikan keterampilan yang diajarkan terus-menerus kepada mahasiswa,'' ujar Fasli. Sementara itu, pengamat pendidikan dari Taman Siswa, Darmaningtyas, memastikan, setiap hari ada saja lowongan kerja dan kebanyakan manajer sumber daya manusia (SDM) perusahaan mengaku kesulitan mendapat tenaga kerja yang diperlukan. Dia juga menyebut contoh masih terbuka lebar kesempatan untuk berkiprah di sektor pertanian, kelautan, perkebunan, dan perikanan.
Namun, disesalkannya, sarjana penganggur umumnya tidak mau memulai karier dari bawah, malah cenderung boros dan malas. Di masa kuliah pun lebih suka nongkrong di mall ketimbang perpustakaan sehingga tertanam jiwa hedonis.''Setelah jadi sarjana, mereka maunya bekerja langsung dapat posisi enak, dapat banyak fasilitas, dan gaji besar,'' ujar Darmaningtyas. eye




