Jakarta - Bank Dunia menyiapkan mekanisme pembiayaan roll over risk (risiko perpanjangan utang) sebagai antisipasi untuk memenuhi kebutuhan valas yang besar karena pembayaran utang luar negeri perusahaan swasta yang jatuh tempo pada tahun ini. Dengan begitu cadangan devisa Indonesia bisa dijaga dalam tingkat yang memadai.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu menjelaskan, dalam pertemuan G20 di London banyak negara mengkhawatirkan adanya kebutuhan valas yang besar untuk pembayaran utang luar negeri swasta.
"Kalau dalam kondisi normal utang ini bisa di roll over (perpanjang batas waktu) atau direstrukturisasi. Tapi saat ini kreditur pasti membutuhkan uang tunai sehingga muncul roll over risk dan pembayarannya bisa menggerus cadangan devisa," tuturnya ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (16/3/2009).
Di Indonesia sendiri berdasarkan catatan Bank Indonesia, jumlah utang swasta yang jatuh tempo 2009 mencapai US$ 17,4 miliar.
Jumlah utang luar negeri tersebut masih dalam posisi yang bisa dikendalikan. Pasalnya, tidak seluruhnya harus dibayar lunas, karena ada beberapa utang yang masih bisa diperpanjang.
"Jumlah cadangan devisa kita saat ini US$ 53,7 miliar cukup, tapi kalau digunakan semua bisa habis, karena itu harus ada second line of defense yaitu melalui Bank Dunia ini," katanya.
Pembiayaan roll over risk dari Bank Dunia ini dikatakan oleh Anggito hanya langkah jaga-jaga. Langkah ini baru akan diambil jika memang dirasa perlu untuk menjaga agar cadangan devisa tidak tergerus.
Untuk mekanismenya, Anggito mengatakan pemerintah dan BI sudah mempunyai jadwal pembayaran utang luar negeri swasta yang jatuh tempo 2009. Hal ini lah yang menjadi pertimbangan pemerintah.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu menjelaskan, dalam pertemuan G20 di London banyak negara mengkhawatirkan adanya kebutuhan valas yang besar untuk pembayaran utang luar negeri swasta.
"Kalau dalam kondisi normal utang ini bisa di roll over (perpanjang batas waktu) atau direstrukturisasi. Tapi saat ini kreditur pasti membutuhkan uang tunai sehingga muncul roll over risk dan pembayarannya bisa menggerus cadangan devisa," tuturnya ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (16/3/2009).
Di Indonesia sendiri berdasarkan catatan Bank Indonesia, jumlah utang swasta yang jatuh tempo 2009 mencapai US$ 17,4 miliar.
Jumlah utang luar negeri tersebut masih dalam posisi yang bisa dikendalikan. Pasalnya, tidak seluruhnya harus dibayar lunas, karena ada beberapa utang yang masih bisa diperpanjang.
"Jumlah cadangan devisa kita saat ini US$ 53,7 miliar cukup, tapi kalau digunakan semua bisa habis, karena itu harus ada second line of defense yaitu melalui Bank Dunia ini," katanya.
Pembiayaan roll over risk dari Bank Dunia ini dikatakan oleh Anggito hanya langkah jaga-jaga. Langkah ini baru akan diambil jika memang dirasa perlu untuk menjaga agar cadangan devisa tidak tergerus.
Untuk mekanismenya, Anggito mengatakan pemerintah dan BI sudah mempunyai jadwal pembayaran utang luar negeri swasta yang jatuh tempo 2009. Hal ini lah yang menjadi pertimbangan pemerintah.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar